Penghapusan perbudakan di Amerika pada tahun 1910 telah membuka kesempatan baru bagi budak-budak Afro-amerika yang telah bebas untuk mengenyam pendidikan. Walaupun aturan pembedaan rasial yang begitu ketat telah membatasi peluang kerja bagi kebanyakan kaum kulit hitam, banyak diantaranya memperoleh pekerjaan di bidang hiburan, karena mau atau tidak pada saat itu mereka harus meningkatkan kemampuan bermusik mereka untuk bisa mencari penghasilan.
Di Saint Louis dan New Orleans, di masa itu musisi kulit hitam mampu menyajikan hiburan malam kelas bawah seperti klub dansa, pertunjukan pengamen dan juga vaudeville.
Vaudevile merupakan sebuah pertunjukan teatrikal yang berisi beragam hiburan di Amerika yang marak pada awal 1880 sampai awal 1930, biasanya tiap pertunjukan yang ditampilkan berisi bermacam penampilan yang dibuat secara terpisah dan tidak berkaitan satu sama lain. Dalam vaudeville ini juga menampilkan pertunjukan grup musik, dimana banyak grup marching band dibentuk dan berkembang dari situ. Pianis kulit hitam bermain di bar, klab dan rumah bordil sebagaimana musik ragtime dibentuk dan dikembangkan.Ragtime merupakan sebuah jenis musik semacam musik mars dengan irama khas Afrika yang dipopulerkan oleh John Phillip Sousa, seorang komposer musik militer Amerika.
Ragtime muncul dan dipopulerkan oleh musisi Afro-amerika seperti entertainer Ernest Hogan, yang lagu-lagu hit nya bermunculan di tahun 1895, dua tahun kemudian seorang kulit putih Vess Ossman merekam sebuah lagu medley dari lagu-lagu hit tersebut dengan menggunakan aransemen solo alat musik banjo yang terkenal dengan “Ragtime Medley”. Juga di tahun 1897 komposer kulit putih William H. Krell mempublikasikan “Mississippi Rag” sebagai sebuah masterpiece instrumental piano musik ragtime yang pertama kali pernah ditulis, dan juga Tom Turpin yang merilis “Harlem Rag”-nya, sebuah musik ragtime yang pertama kali pernah ditulis di atas sheet music (cetak kertas) oleh seorang kulit hitam Amerika.
Pianis musik klasik Scott Joplin pernah memproduseri “Original Rag” di tahun berikutnya setelah karya “Mississippi Rag” milik Krell, kemudian pada 1899 dia menghasilkan sebuah hit internasional “Maple Leaf Rag”. Joplin menulis banyak musik ragtime yang populer termasuk “The Entertainer”, yang komposisi musiknya mengkombinasikan teknik sinkopasi, penggunaan instrument banjo dan terkadang pola call and response, sebuah pola umum saling panggil dan sahut yang biasa dilakukan oleh kaum pekerja kulit hitam ketika mereka sedang bekerja di ladang.Sebagian besar pengamat musik menilai bahawa ragtime mempunyai pengaruh besar dalam warna musik Amerika di abad 20, bahkan unsur – unsur dalam ragtime juga sangat mempengaruhi komposer musik klasik seperti Claude Debussy atau juga Igor Stravinsky yang mempunyai hobi mengubah-ubah ketukan ketika dia sedang mengolah ritme musik.
